Minggu, 03 April 2016

XXIII

Aku tidak pernah mengeluh ketika Manado menjauh meninggalkan apa yang mestinya sepadan dari batas antara kenanganku atas sebuah kota dari masa kecilku dengan ingatanku yang samar-samar pada biografiku sendiri dalam sebuah kota yang melaju dengan sejarahnya sendiri.

Pun masa depan tak lebih buram dari itu.

Manado sejak kecilku adalah aspal dan beton. Sebuah harapan. Petak demi petak kesementaraan dalam ruang yang itu-itu saja namun menolak untuk menjadi hanya itu. Dan kenangan berlari secepat harapanku akan Manado. Berputar-putar di tepi pikiranku. Membentuk sebuah kota. Berlapis-lapis dengan gagasan sederhana mengenai struktur, perubahan, budaya, pasar, dan senyum.

Kita pernah berbincang tentang itu.

Seorang lelaki, mestinya aku. Seorang lelaki, mungkin kau. Dan seorang lelaki lain yang meninggalkan Manado sebagai tangis haru atas cita-cita kecilnya menggenggam kembali kota yang luput dari hari tuanya, mungkin kau dan beberapa kau yang lain. Kita duduk berkumpul dan pernah berbincang tentang itu. Tentang Manado.

Dan seorang perempuan, mestinya kau juga.

Kita telah lama membiasakan diri dengan gradasi-gradasi bunyi Manado sebagai realitas aspal dan beton, sekedar lukisan yang gagal menemukan warna yang tepat untuk menggambarkan perempatan di pusat kota, atau dimensi lain dari pantai di dalam segelas cendol sore hari. Kita menghambur dengan ide-ide yang begitu cemerlang.

Namamu Susan dan kau membuat sebuah puisi tentang Manado dalam bahasa yang sangat muram tapi mungkin hanya itulah cara menangkap kota kecil kita dalam kata-kata kita yang tidak pernah tepat untuk menggambarkannya. Dan sejak itu aku tidak pernah lagi bertemu seorangpun penyair yang mampu membahasakan Manado dalam cara bagaimana aku mengenalnya.

Namamu Manado, terlalu kecil untuk menampung cinta seorang perempuan dalam puisi yang muram dan harus meninggalkan kotanya hanya agar bisa mencintaimu seperti aku mencintai Susan, kau, perempuan yang berbincang denganku tentang kenangan-kenangan kita akan kota tempat kita dilahirkan dalam waktu yang berbeda dengan nasib yang juga berbeda ribuan kilometer dari Manado di sebuah rumah kos dengan bibir yang kering.

Susan adalah puisi, perempuan, dan puisi seorang perempuan tentang perempuan di sebuah kota yang penuh perempuan. Dia meninggal dua tahun setelah aku kembali ke Manado dan menemukan bahwa masa depan adalah satu-satunya yang berharga dari kotaku yang menelannya dalam sebuah upacara pemakaman dengan bunga-bunga dan terik matahari.

Waktu itu, aku begitu rindu pada bau tanah.

Tapi iitu adalah cerita yang lain. Sebuah perbincangan yang berhasil merangkum peradaban di atas kerinduan kita pada Manado dan meludahinya dengan gagah. Karena rencana bagi masa depan Manado adalah sebuah cara terhormat untuk menggagalkan masa depannya.

Kita menemukannya dalam kampanye-kampanye politik yang membosankan, khutbah-khutbah agama yang membosankan, kajian-kajian ilmiah yang membosankan, opini-opini publik yang membosankan, dan puisi-puisi yang membosankan.

Di sini dan sekarang, Manado adalah 42 kilometer per jam dengan lagu lama tentang cinta yang membosankan.

Maka dengan cara yang begitu agung aku tahu bahwa aku tidak pernah sungguh-sungguh mengenal Manado. Aku bahkan ragu bahwa aku pernah merindukannya atau sekedar mengingatnya dengan rendah hati.

Manado selalu luput dari waktu ketika aku belajar untuk mengenalinya dan terus menerus hadir sebagai akanan. Karena kapanpun, dalam waktu, Manado hanya akan terus menjadi masa depan.

Seperti ketika kita menyulam helai demi helai benang di atas kain di ujung jarum yang menembus ruang kota-kota dan berjumpa dengan Manado seperti menikmati fajar setelah serangan insomnia yang kalap.

Aku selalu menemukan Manado setiap kali aku mengingat nama-nama jalan dalam biografiku. Semata Manado, begitulah.

Manado 2015

amato

Tidak ada komentar:

Posting Komentar