Minggu, 03 April 2016

XXII

Aku bisa menulis aku.

Aku bisa menulis apa saja yang aku pikirkan hanya agar aku bisa mengenali kembali setiap huruf, setiap kata, setiap kalimat, setiap pikiran-pikiran itu dalam setiap detailnya. Tapi aku harus berhenti pada satu titik, mungkin dengan membuat titik atau tidak sama sekali.

Atau mungkin aku hanya akan menulis aku.

Maksudku segala sesuatu yang membentuk kata aku dalam pikiranku. Mungkin aku harus memikirkan semua itu sebagai huruf, kata, dan kalimat. Mungkin aku harus menerima bahwa ini adalah persoalan menulis dan yang tinggal dalam pikiranku, untuk ditulis, hanyalah aku.

Mungkin setiap orang yang kelak membaca tulisanku akan menemukan aku dalam tulisan itu sebagai mereka. Maksudnya sebagai “aku”nya mereka. Maksudnya sebagai mereka yang direpresentasikan oleh aku dalam tulisanku.

Meskipun, dengan begitu, aku akan melenyap menjadi hanya yang menulis aku untuk kemudian dilupakan dalam pertemuan mereka, para pembaca, dengan “aku”nya mereka dalam tulisanku itu.

Tapi bisa jadi justru akulah yang hidup di dalam benak mereka. Saat mereka membaca, setiap kali mereka membaca, “aku” dan berpikir bahwa mereka sedang membaca diri mereka sendiri. Karena sebuah tulisan mestinya memiliki siasat-siasatnya sendiri dalam menemui pembaca.

Aku pernah bertemu seseorang yang tidak lagi menulis karena dirinya telah berubah menjadi tulisan itu sendiri. Aku sebenarnya tidak hanya bertemu seseorang yang seperti itu tapi begitu banyak seorang.

Jauh dari mati dalam tulisan mereka – dalam tulisan mereka, mereka justru hidup dan menjadi abadi dengan terkadang ramai, terkadang sunyi. Semua semata karena mereka telah berubah menjadi tulisan itu sendiri.

Kita membaca nama mereka; boleh juga dikatakan bahwa kita membaca “aku” mereka dan menemukan mereka. Hidup dan begitu berjaya dalam tulisan-tulisan mereka; boleh juga dikatakan dalam diri-diri dan/atau tubuh-tubuh mereka.

Tapi ada beberapa yang menjadi begitu indah karena, melampaui tahapan pertama – menjadi penulis dan tahapan kedua – menjadi tulisan, mereka telah berubah dalam satu dan lain sebab (misteri yang sekarang hendak aku pecahkan) menjadi menulis.

Ya, aku sedang menuliskan sebuah kata kerja: menulis. Bayangkan, mereka adalah penulis yang setelah gagal atau berhasil menjadi tulisan dalam “nama” atau “diri” atau “tubuh” atau, dalam lompatan imajinatif yang nyaris mustahil, “aku” kemudian menjadi menulis itu sendiri.

Kita mengenal seseorang sebagai “penulis” dan kita memuja beberapa yang lain sebagai “tulisan” itu sendiri. Tapi kita selalu gagal memahami bagaimana sedikit di antara mereka menjadi “menulis” dalam pengertian yang paling aktif dari kata itu.

Aku belum pernah menemukan para menulis. Dan aku memang tidak pernah berminat untuk bertemu mereka. Aku telah muntah dengan imajinasi yang begitu menakjubkan tentang kemungkinan itu sehingga tidak lagi merasa perlu untuk menemukan mereka.

Dan ketika menulis menjadi persoalan “menjadi” maka menulis hanya akan merupakan langkah yang sederhana jika dengan itu kita ingin menjadi penulis.

Aku tidak pernah bertemu para menulis yang aku kira ada begitu banyak di sekitar kita karena akan sangat membingungkan bagi logika linguistik kita untuk menjumpai seseorang yang merupakan kata kerja. Setidaknya, tidak dalam dunia yang masih dipenuhi oleh kekecewaan-kekecewaan logis kita pada bahasa itu sendiri.

Oh ya, bahasa adalah kata kunci kita di sini. Setidaknya itulah yang aku temukan dalam urusan menulis. Entah menulis sebagai sebuah kata kerja atau menulis sebagai sebentuk kemungkinan menjadi.

Lalu aku mencoba menulis dan menemukan adakalanya aku telah menjadi menulis. Ini seperti permainan bahasa yang menjengkelkan. Aku menulis dan menjadi menulis. Tapi tidak. Ini adalah sebuah peristiwa onto-epistemologis yang sangat luar biasa dan, meski memang menjengkelkan, cukup fantastis bagi kesenangan kita akan kemungkinan yang melampaui batas-batas kemanusiaan.

Katakanlah semacam spiritualisme naturalistis.

Seperti ketika kita berada di pantai, melihat ke arah kejauhan batas antara laut dan langit dan menemukan garis cakrawala. Dan ketika ada yang terasa melenyap, itu selalu bukan kita tapi semata kondisi-kondisi bagi keberadaan kita. Katakanlah seperti debur ombak, bau asin, terpaan angin, atau sekedar kehadiran segala sesuatu yang bukan kita (baca; aku).

Seperti itulah menulis dalam capaian-capaiannya yang paling sederhana. Dan itu bukan peristiwa linguistik atau permainan semantik. Itu adalah kata kerja yang menjadi entah ketika hal antropologis berubah menjadi abstraksi-abstraksi yang selalu berusaha kita gagalkan.

Dan itu adalah rahasia pertama dalam menulis: menggagalkan abstraksi-abstraksi. Tanpa peristiwa menggagalkan abstraksi, kita bahkan tidak akan pernah menulis. Lalu aku menulis dengan cara itu.

Dimulai dengan sebuah puisi ulang tahun untuk seorang sahabat yang meninggal dalam keadaan telanjang karena ingin menjadi murni dalam upayanya meninggalkan kenangan akan dirinya sebagai tubuh yang pernah merasakan hidup.

Puisi itu begitu mengharukan sehingga aku lupa menuliskan judul. Dan tanpa judul tak ada abstraksi sehingga tak ada yang bisa digagalkan. Lalu aku kembali menulis. Juga sebuah puisi dengan judul yang cukup panjang.

Tapi kali ini tentang ibuku yang berkali-kali melahirkan aku.

Pertama sebagai elang dengan sayap berwarna jingga, lalu sebagai malaikat buta, lalu sebagai pelancong di sungai berbatu-batu, terakhir sebagai seorang lelaki yang menemukan kekasihnya di dalam dongeng-dongeng orang Eropa.

Aku menangis waktu itu karena orang-orang kemudian mulai menyebutku sebagai penulis. Itu adalah tangisan bahagia untuk sebuah pujian yang percuma. Tidak sebegitu percuma tapi memang cukup percuma, setidaknya sebagai sebuah pujian.

Aku selalu takjub pada cara kita mempercumakan diri dalam pujian tapi tidak ada yang lebih menakjubkan seperti cara kita menjadi penulis dan menemukannya sebagai pujian dengan segala kepercumaannya.

Dan aku terus menulis.

Aku telah menulis tentang berbagai hal hingga saat aku sadar bahwa aku belum pernah menulis dengan menjadi menulis itu sendiri. Bagaimana kata menjadi pikiran kita dan tercurah begitu saja sebagai huruf yang membentuk kata atau yang kita anggap sebagai kata yang membentuk kalimat atau yang kita anggap sebagai kalimat.

Aku terpana seakan termantra.

Aku tercerahkan.

Sungguh.

Aku terbangun dari ketololan kanak-kanakku mengenai menulis, membuat tulisan dan menjadi penulis. Itu semua adalah bagian-bagian yang tidak penting dari sesuatu yang sangat penting: menemukan menulis.

Dan aku kembali menangis ketika aku kembali menulis. Dan untuk seterusnya aku selalu menangis setiap kali menulis atau, jika ada cukup waktu, aku selalu menulis setiap kali aku menangis.

Kenapa?

Karena bukannya menemukan kata bagi setiap pikiran, aku justru menemukan pikiran dalam setiap kata. Menuliskannya sambil menangis dan menemukan bahwa menulis, dan ini adalah rahasia yang kedua, bukanlah berkata-kata.

Pada saat itu, dengan atau tanpa judul, aku tidak lagi menulis puisi.

Aku hanya menulis aku.

Sebuah ungkapan lain dari “aku hanya menulis menulis” dan aku tidak menangis karena itu tapi karena dengan cara itu aku tak lagi perlu menulis. Aku hanya perlu bahasa untuk menemukan tulisanku.

Dan orang-orang akan membaca aku.

Manado 2015

amato

Tidak ada komentar:

Posting Komentar