Aku bisa menulis aku.
Aku
bisa menulis apa saja yang aku pikirkan hanya agar aku bisa mengenali kembali
setiap huruf, setiap kata, setiap kalimat, setiap pikiran-pikiran itu dalam
setiap detailnya. Tapi aku harus berhenti pada satu titik, mungkin dengan
membuat titik atau tidak sama sekali.
Atau
mungkin aku hanya akan menulis aku.
Maksudku
segala sesuatu yang membentuk kata aku dalam pikiranku. Mungkin aku harus
memikirkan semua itu sebagai huruf, kata, dan kalimat. Mungkin aku harus
menerima bahwa ini adalah persoalan menulis dan yang tinggal dalam pikiranku,
untuk ditulis, hanyalah aku.
Mungkin
setiap orang yang kelak membaca tulisanku akan menemukan aku dalam tulisan itu
sebagai mereka. Maksudnya sebagai “aku”nya mereka. Maksudnya sebagai mereka yang
direpresentasikan oleh aku dalam tulisanku.
Meskipun,
dengan begitu, aku akan melenyap menjadi hanya yang menulis aku untuk kemudian
dilupakan dalam pertemuan mereka, para pembaca, dengan “aku”nya mereka dalam
tulisanku itu.
Tapi
bisa jadi justru akulah yang hidup di dalam benak mereka. Saat mereka membaca,
setiap kali mereka membaca, “aku” dan berpikir bahwa mereka sedang membaca diri
mereka sendiri. Karena sebuah tulisan mestinya memiliki siasat-siasatnya
sendiri dalam menemui pembaca.
Aku
pernah bertemu seseorang yang tidak lagi menulis karena dirinya telah berubah
menjadi tulisan itu sendiri. Aku sebenarnya tidak hanya bertemu seseorang yang
seperti itu tapi begitu banyak seorang.
Jauh
dari mati dalam tulisan mereka – dalam tulisan mereka, mereka justru hidup dan
menjadi abadi dengan terkadang ramai, terkadang sunyi. Semua semata karena
mereka telah berubah menjadi tulisan itu sendiri.
Kita
membaca nama mereka; boleh juga dikatakan bahwa kita membaca “aku” mereka dan
menemukan mereka. Hidup dan begitu berjaya dalam tulisan-tulisan mereka; boleh
juga dikatakan dalam diri-diri dan/atau tubuh-tubuh mereka.
Tapi
ada beberapa yang menjadi begitu indah karena, melampaui tahapan pertama –
menjadi penulis dan tahapan kedua – menjadi tulisan, mereka telah berubah dalam
satu dan lain sebab (misteri yang sekarang hendak aku pecahkan) menjadi
menulis.
Ya,
aku sedang menuliskan sebuah kata kerja: menulis. Bayangkan, mereka adalah
penulis yang setelah gagal atau berhasil menjadi tulisan dalam “nama” atau
“diri” atau “tubuh” atau, dalam lompatan imajinatif yang nyaris mustahil, “aku”
kemudian menjadi menulis itu sendiri.
Kita
mengenal seseorang sebagai “penulis” dan kita memuja beberapa yang lain sebagai
“tulisan” itu sendiri. Tapi kita selalu gagal memahami bagaimana sedikit di
antara mereka menjadi “menulis” dalam pengertian yang paling aktif dari kata
itu.
Aku
belum pernah menemukan para menulis. Dan aku memang tidak pernah berminat untuk
bertemu mereka. Aku telah muntah dengan imajinasi yang begitu menakjubkan
tentang kemungkinan itu sehingga tidak lagi merasa perlu untuk menemukan
mereka.
Dan
ketika menulis menjadi persoalan “menjadi” maka menulis hanya akan merupakan
langkah yang sederhana jika dengan itu kita ingin menjadi penulis.
Aku
tidak pernah bertemu para menulis yang aku kira ada begitu banyak di sekitar
kita karena akan sangat membingungkan bagi logika linguistik kita untuk
menjumpai seseorang yang merupakan kata kerja. Setidaknya, tidak dalam dunia
yang masih dipenuhi oleh kekecewaan-kekecewaan logis kita pada bahasa itu sendiri.
Oh
ya, bahasa adalah kata kunci kita di sini. Setidaknya itulah yang aku temukan
dalam urusan menulis. Entah menulis sebagai sebuah kata kerja atau menulis
sebagai sebentuk kemungkinan menjadi.
Lalu
aku mencoba menulis dan menemukan adakalanya aku telah menjadi menulis. Ini
seperti permainan bahasa yang menjengkelkan. Aku menulis dan menjadi menulis.
Tapi tidak. Ini adalah sebuah peristiwa onto-epistemologis yang sangat luar biasa dan,
meski memang menjengkelkan, cukup fantastis bagi kesenangan kita akan
kemungkinan yang melampaui batas-batas kemanusiaan.
Katakanlah
semacam spiritualisme naturalistis.
Seperti
ketika kita berada di pantai, melihat ke arah kejauhan batas antara laut dan
langit dan menemukan garis cakrawala. Dan ketika ada yang terasa melenyap, itu
selalu bukan kita tapi semata kondisi-kondisi bagi keberadaan kita. Katakanlah
seperti debur ombak, bau asin, terpaan angin, atau sekedar kehadiran segala
sesuatu yang bukan kita (baca; aku).
Seperti
itulah menulis dalam capaian-capaiannya yang paling sederhana. Dan itu bukan
peristiwa linguistik atau permainan semantik. Itu adalah kata kerja yang
menjadi entah ketika hal antropologis berubah menjadi abstraksi-abstraksi yang selalu
berusaha kita gagalkan.
Dan
itu adalah rahasia pertama dalam menulis: menggagalkan abstraksi-abstraksi.
Tanpa peristiwa menggagalkan abstraksi, kita bahkan tidak akan pernah menulis.
Lalu aku menulis dengan cara itu.
Dimulai
dengan sebuah puisi ulang tahun untuk seorang sahabat yang meninggal dalam
keadaan telanjang karena ingin menjadi murni dalam upayanya meninggalkan
kenangan akan dirinya sebagai tubuh yang pernah merasakan hidup.
Puisi
itu begitu mengharukan sehingga aku lupa menuliskan judul. Dan tanpa judul tak
ada abstraksi sehingga tak ada yang bisa digagalkan. Lalu aku kembali menulis.
Juga sebuah puisi dengan judul yang
cukup panjang.
Tapi kali ini tentang
ibuku yang berkali-kali melahirkan aku.
Pertama
sebagai elang dengan sayap berwarna jingga, lalu sebagai malaikat buta, lalu
sebagai pelancong di sungai berbatu-batu, terakhir sebagai seorang lelaki yang
menemukan kekasihnya di dalam dongeng-dongeng orang Eropa.
Aku
menangis waktu itu karena orang-orang kemudian mulai menyebutku sebagai
penulis. Itu
adalah tangisan bahagia untuk sebuah pujian yang percuma. Tidak sebegitu percuma tapi memang cukup percuma,
setidaknya sebagai sebuah pujian.
Aku
selalu takjub pada cara kita mempercumakan diri dalam pujian tapi tidak ada
yang lebih menakjubkan seperti cara kita menjadi penulis dan menemukannya
sebagai pujian dengan segala kepercumaannya.
Dan
aku terus menulis.
Aku
telah menulis tentang berbagai hal hingga saat aku sadar bahwa aku belum pernah
menulis dengan menjadi menulis itu sendiri. Bagaimana kata menjadi pikiran kita
dan tercurah begitu saja sebagai huruf yang membentuk kata atau yang kita
anggap sebagai kata yang membentuk kalimat atau yang kita anggap sebagai
kalimat.
Aku
terpana seakan termantra.
Aku
tercerahkan.
Sungguh.
Aku
terbangun dari ketololan kanak-kanakku mengenai menulis, membuat tulisan dan
menjadi penulis. Itu semua adalah bagian-bagian yang tidak penting dari sesuatu
yang sangat penting: menemukan menulis.
Dan
aku kembali menangis ketika aku kembali menulis. Dan untuk seterusnya aku
selalu menangis setiap kali menulis atau, jika ada cukup waktu, aku selalu
menulis setiap kali aku menangis.
Kenapa?
Karena
bukannya menemukan kata bagi setiap pikiran, aku justru menemukan pikiran dalam
setiap kata. Menuliskannya – sambil menangis – dan menemukan bahwa menulis, dan ini adalah rahasia yang kedua, bukanlah
berkata-kata.
Pada
saat itu, dengan atau tanpa judul, aku tidak lagi menulis puisi.
Aku
hanya menulis aku.
Sebuah
ungkapan lain dari “aku hanya menulis menulis” dan aku tidak menangis karena
itu tapi karena dengan cara itu aku tak lagi perlu menulis. Aku hanya perlu
bahasa untuk menemukan tulisanku.
Dan orang-orang akan membaca aku.
Manado 2015
amato
Tidak ada komentar:
Posting Komentar