Aku
mengharapkan bagi rinduku sebuah nama setelah perjalanan kita ternyata tidak
menemukan apa-apa kecuali batas yang begitu niskala antara apa yang kusebut
cinta dengan apa yang kerap kau teriakkan di dalam tidur.
Nama
tentu saja adalah sebuah definisi yang ragu dari minat kita untuk memberi
batasan pada segala sesuatu, termasuk keinginan kita untuk melepaskan diri ke
arah pengertian yang lebih baik meski terkadang dengan tergesa.
Maka
rinduku pun memperoleh namanya tanpa upacara serta rasa haru namun dengan
kesediaan untuk membungkam kenangan samar kita akan perjalanan yang tidak
pernah dikehendaki itu. Dan kau gagap, pada akhirnya.
Sayangnya
kita tidak pernah punya cukup waktu untuk melanjutkan sapa menjadi perbincangan
yang sudah sewajarnya antara seorang aku dan seorang kau dengan mengucapkan
rindu sebagai sebuah nama, tentunya.
Jadi,
cinta tidak memiliki cukup makna untuk membawa kita pada pengertian; aku masih
ingat sesuatu yang kau berikan pada malam penuh bintang-bintang tapi aku lupa
kenapa kau begitu kabur dalam pengertianku sendiri.
Dan
cerita kita menjadi semata perjalanan itu. Menjadi apa yang dikenang meski tak
pernah bisa dimengerti. Menjadi aku, kau, dan sebuah pengertian yang menghambur
di dalam kenangan kita. Meski rindu belum bernama.
Aku
memang lebih suka memahaminya sebagai sebuah perjalanan. Di dalamnya pertemuan
termasuk, serta sapa dan hasrat akan cinta. Aku lupa sejak kapan itu menjadi
cinta tapi aku yakin itu memang disebut cinta.
Karena
cinta memang bukan semua itu sekalipun kita telah menuliskannya dalam seribu
roman; orang-orang yang kehilangan hidup hanya agar bisa memberi pengertian
pada ketidaktahuan mereka yang agung dan gradatif.
Kita,
seperti orang-orang itu dan yang lain yang membaca tentang mereka lalu berupaya
menemukan diri dan kisahnya sendiri di dalam cerita-cerita itu, hanyalah
sejenak kegagalan di batas antara rindu dan waktu.
Itulah
kenapa aku memilih untuk tidak disakiti oleh kenangan dan harapan; menengok ke
belakang dan tidak menemukan bayanganku sendiri atau memandang ke depan dan
dibutakan oleh sinar matahari yang angkuh.
Ya,
aku telah berhenti lama sebelum kau mengirim padaku surat yang sama yang mereka
kirimkan padamu dengan gambar-gambar yang membentuk abjad seolah prasasti
ketololan kita menjadi manusia atau tidak.
Mungkin
itulah intinya. Maksudku, segala sesuatunya. Sebuah gambaran terang. Mereka
menyebutnya pencerahan. Kau menyebutnya matahari karena dia memberimu bayang
serta kenangan untuk dilupakan.
Kita
sudah lama menamakan ketidaktahuan kita, batas niskala itu, kenangan akan
perjalanan yang tidak pernah bisa kita mengerti, orang-orang yang membaca roman
dan menemukan air mata mereka, matahari, sebagai tuhan.
Bagi
rindu, dengan atau tanpa cinta, kita telah menyembahnya setelah memberinya
nama.
Manado 2015
amato
Tidak ada komentar:
Posting Komentar