Minggu, 03 April 2016

XXI

Aku mengharapkan bagi rinduku sebuah nama setelah perjalanan kita ternyata tidak menemukan apa-apa kecuali batas yang begitu niskala antara apa yang kusebut cinta dengan apa yang kerap kau teriakkan di dalam tidur.

Nama tentu saja adalah sebuah definisi yang ragu dari minat kita untuk memberi batasan pada segala sesuatu, termasuk keinginan kita untuk melepaskan diri ke arah pengertian yang lebih baik meski terkadang dengan tergesa.

Maka rinduku pun memperoleh namanya tanpa upacara serta rasa haru namun dengan kesediaan untuk membungkam kenangan samar kita akan perjalanan yang tidak pernah dikehendaki itu. Dan kau gagap, pada akhirnya.

Sayangnya kita tidak pernah punya cukup waktu untuk melanjutkan sapa menjadi perbincangan yang sudah sewajarnya antara seorang aku dan seorang kau dengan mengucapkan rindu sebagai sebuah nama, tentunya.

Jadi, cinta tidak memiliki cukup makna untuk membawa kita pada pengertian; aku masih ingat sesuatu yang kau berikan pada malam penuh bintang-bintang tapi aku lupa kenapa kau begitu kabur dalam pengertianku sendiri.

Dan cerita kita menjadi semata perjalanan itu. Menjadi apa yang dikenang meski tak pernah bisa dimengerti. Menjadi aku, kau, dan sebuah pengertian yang menghambur di dalam kenangan kita. Meski rindu belum bernama.

Aku memang lebih suka memahaminya sebagai sebuah perjalanan. Di dalamnya pertemuan termasuk, serta sapa dan hasrat akan cinta. Aku lupa sejak kapan itu menjadi cinta tapi aku yakin itu memang disebut cinta.

Karena cinta memang bukan semua itu sekalipun kita telah menuliskannya dalam seribu roman; orang-orang yang kehilangan hidup hanya agar bisa memberi pengertian pada ketidaktahuan mereka yang agung dan gradatif.

Kita, seperti orang-orang itu dan yang lain yang membaca tentang mereka lalu berupaya menemukan diri dan kisahnya sendiri di dalam cerita-cerita itu, hanyalah sejenak kegagalan di batas antara rindu dan waktu.

Itulah kenapa aku memilih untuk tidak disakiti oleh kenangan dan harapan; menengok ke belakang dan tidak menemukan bayanganku sendiri atau memandang ke depan dan dibutakan oleh sinar matahari yang angkuh.

Ya, aku telah berhenti lama sebelum kau mengirim padaku surat yang sama yang mereka kirimkan padamu dengan gambar-gambar yang membentuk abjad seolah prasasti ketololan kita menjadi manusia atau tidak.

Mungkin itulah intinya. Maksudku, segala sesuatunya. Sebuah gambaran terang. Mereka menyebutnya pencerahan. Kau menyebutnya matahari karena dia memberimu bayang serta kenangan untuk dilupakan.

Kita sudah lama menamakan ketidaktahuan kita, batas niskala itu, kenangan akan perjalanan yang tidak pernah bisa kita mengerti, orang-orang yang membaca roman dan menemukan air mata mereka, matahari, sebagai tuhan.

Bagi rindu, dengan atau tanpa cinta, kita telah menyembahnya setelah memberinya nama.

Manado 2015
amato

Tidak ada komentar:

Posting Komentar