Minggu, 03 April 2016

XXV

di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa bersiul
siddharta gautama dan kekasihku ariana

ketika matahari terbit
gautama menjadi buddha
udara berubah tipis
di bawah pohon boddhi
burung-burung enggan berkicau
gautama bersiul
dunia memasuki abad dua satu

ariana hanya dongeng
yang aku ciptakan
di hari pemakamanmu
ketika matahari tenggelam
dan hari enggan jadi malam
ariana bersiul
aku tak pernah pulang

di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa bersiul
siddharta gautama dan kekasihku ariana

manado 2015

amato

XXIV

adapun kesedihan muncul dengan sia-sia
dan aku masih di sini

bukan menunggu
tidak menghitung
hanya mengabur

sebuah garis merah

pada hari ke dua belas kabar itu tiba
kau bunuh diri dengan mata yang masih menyanyi
apakah aku harus menangis
atau mengingat bau rambutmu?

adapun kesedihan muncul dengan sia-sia
dan aku masih di sini

hujan tidak turun
hari belum senja

manado 2015

amato

XXIII

Aku tidak pernah mengeluh ketika Manado menjauh meninggalkan apa yang mestinya sepadan dari batas antara kenanganku atas sebuah kota dari masa kecilku dengan ingatanku yang samar-samar pada biografiku sendiri dalam sebuah kota yang melaju dengan sejarahnya sendiri.

Pun masa depan tak lebih buram dari itu.

Manado sejak kecilku adalah aspal dan beton. Sebuah harapan. Petak demi petak kesementaraan dalam ruang yang itu-itu saja namun menolak untuk menjadi hanya itu. Dan kenangan berlari secepat harapanku akan Manado. Berputar-putar di tepi pikiranku. Membentuk sebuah kota. Berlapis-lapis dengan gagasan sederhana mengenai struktur, perubahan, budaya, pasar, dan senyum.

Kita pernah berbincang tentang itu.

Seorang lelaki, mestinya aku. Seorang lelaki, mungkin kau. Dan seorang lelaki lain yang meninggalkan Manado sebagai tangis haru atas cita-cita kecilnya menggenggam kembali kota yang luput dari hari tuanya, mungkin kau dan beberapa kau yang lain. Kita duduk berkumpul dan pernah berbincang tentang itu. Tentang Manado.

Dan seorang perempuan, mestinya kau juga.

Kita telah lama membiasakan diri dengan gradasi-gradasi bunyi Manado sebagai realitas aspal dan beton, sekedar lukisan yang gagal menemukan warna yang tepat untuk menggambarkan perempatan di pusat kota, atau dimensi lain dari pantai di dalam segelas cendol sore hari. Kita menghambur dengan ide-ide yang begitu cemerlang.

Namamu Susan dan kau membuat sebuah puisi tentang Manado dalam bahasa yang sangat muram tapi mungkin hanya itulah cara menangkap kota kecil kita dalam kata-kata kita yang tidak pernah tepat untuk menggambarkannya. Dan sejak itu aku tidak pernah lagi bertemu seorangpun penyair yang mampu membahasakan Manado dalam cara bagaimana aku mengenalnya.

Namamu Manado, terlalu kecil untuk menampung cinta seorang perempuan dalam puisi yang muram dan harus meninggalkan kotanya hanya agar bisa mencintaimu seperti aku mencintai Susan, kau, perempuan yang berbincang denganku tentang kenangan-kenangan kita akan kota tempat kita dilahirkan dalam waktu yang berbeda dengan nasib yang juga berbeda ribuan kilometer dari Manado di sebuah rumah kos dengan bibir yang kering.

Susan adalah puisi, perempuan, dan puisi seorang perempuan tentang perempuan di sebuah kota yang penuh perempuan. Dia meninggal dua tahun setelah aku kembali ke Manado dan menemukan bahwa masa depan adalah satu-satunya yang berharga dari kotaku yang menelannya dalam sebuah upacara pemakaman dengan bunga-bunga dan terik matahari.

Waktu itu, aku begitu rindu pada bau tanah.

Tapi iitu adalah cerita yang lain. Sebuah perbincangan yang berhasil merangkum peradaban di atas kerinduan kita pada Manado dan meludahinya dengan gagah. Karena rencana bagi masa depan Manado adalah sebuah cara terhormat untuk menggagalkan masa depannya.

Kita menemukannya dalam kampanye-kampanye politik yang membosankan, khutbah-khutbah agama yang membosankan, kajian-kajian ilmiah yang membosankan, opini-opini publik yang membosankan, dan puisi-puisi yang membosankan.

Di sini dan sekarang, Manado adalah 42 kilometer per jam dengan lagu lama tentang cinta yang membosankan.

Maka dengan cara yang begitu agung aku tahu bahwa aku tidak pernah sungguh-sungguh mengenal Manado. Aku bahkan ragu bahwa aku pernah merindukannya atau sekedar mengingatnya dengan rendah hati.

Manado selalu luput dari waktu ketika aku belajar untuk mengenalinya dan terus menerus hadir sebagai akanan. Karena kapanpun, dalam waktu, Manado hanya akan terus menjadi masa depan.

Seperti ketika kita menyulam helai demi helai benang di atas kain di ujung jarum yang menembus ruang kota-kota dan berjumpa dengan Manado seperti menikmati fajar setelah serangan insomnia yang kalap.

Aku selalu menemukan Manado setiap kali aku mengingat nama-nama jalan dalam biografiku. Semata Manado, begitulah.

Manado 2015

amato

XXII

Aku bisa menulis aku.

Aku bisa menulis apa saja yang aku pikirkan hanya agar aku bisa mengenali kembali setiap huruf, setiap kata, setiap kalimat, setiap pikiran-pikiran itu dalam setiap detailnya. Tapi aku harus berhenti pada satu titik, mungkin dengan membuat titik atau tidak sama sekali.

Atau mungkin aku hanya akan menulis aku.

Maksudku segala sesuatu yang membentuk kata aku dalam pikiranku. Mungkin aku harus memikirkan semua itu sebagai huruf, kata, dan kalimat. Mungkin aku harus menerima bahwa ini adalah persoalan menulis dan yang tinggal dalam pikiranku, untuk ditulis, hanyalah aku.

Mungkin setiap orang yang kelak membaca tulisanku akan menemukan aku dalam tulisan itu sebagai mereka. Maksudnya sebagai “aku”nya mereka. Maksudnya sebagai mereka yang direpresentasikan oleh aku dalam tulisanku.

Meskipun, dengan begitu, aku akan melenyap menjadi hanya yang menulis aku untuk kemudian dilupakan dalam pertemuan mereka, para pembaca, dengan “aku”nya mereka dalam tulisanku itu.

Tapi bisa jadi justru akulah yang hidup di dalam benak mereka. Saat mereka membaca, setiap kali mereka membaca, “aku” dan berpikir bahwa mereka sedang membaca diri mereka sendiri. Karena sebuah tulisan mestinya memiliki siasat-siasatnya sendiri dalam menemui pembaca.

Aku pernah bertemu seseorang yang tidak lagi menulis karena dirinya telah berubah menjadi tulisan itu sendiri. Aku sebenarnya tidak hanya bertemu seseorang yang seperti itu tapi begitu banyak seorang.

Jauh dari mati dalam tulisan mereka – dalam tulisan mereka, mereka justru hidup dan menjadi abadi dengan terkadang ramai, terkadang sunyi. Semua semata karena mereka telah berubah menjadi tulisan itu sendiri.

Kita membaca nama mereka; boleh juga dikatakan bahwa kita membaca “aku” mereka dan menemukan mereka. Hidup dan begitu berjaya dalam tulisan-tulisan mereka; boleh juga dikatakan dalam diri-diri dan/atau tubuh-tubuh mereka.

Tapi ada beberapa yang menjadi begitu indah karena, melampaui tahapan pertama – menjadi penulis dan tahapan kedua – menjadi tulisan, mereka telah berubah dalam satu dan lain sebab (misteri yang sekarang hendak aku pecahkan) menjadi menulis.

Ya, aku sedang menuliskan sebuah kata kerja: menulis. Bayangkan, mereka adalah penulis yang setelah gagal atau berhasil menjadi tulisan dalam “nama” atau “diri” atau “tubuh” atau, dalam lompatan imajinatif yang nyaris mustahil, “aku” kemudian menjadi menulis itu sendiri.

Kita mengenal seseorang sebagai “penulis” dan kita memuja beberapa yang lain sebagai “tulisan” itu sendiri. Tapi kita selalu gagal memahami bagaimana sedikit di antara mereka menjadi “menulis” dalam pengertian yang paling aktif dari kata itu.

Aku belum pernah menemukan para menulis. Dan aku memang tidak pernah berminat untuk bertemu mereka. Aku telah muntah dengan imajinasi yang begitu menakjubkan tentang kemungkinan itu sehingga tidak lagi merasa perlu untuk menemukan mereka.

Dan ketika menulis menjadi persoalan “menjadi” maka menulis hanya akan merupakan langkah yang sederhana jika dengan itu kita ingin menjadi penulis.

Aku tidak pernah bertemu para menulis yang aku kira ada begitu banyak di sekitar kita karena akan sangat membingungkan bagi logika linguistik kita untuk menjumpai seseorang yang merupakan kata kerja. Setidaknya, tidak dalam dunia yang masih dipenuhi oleh kekecewaan-kekecewaan logis kita pada bahasa itu sendiri.

Oh ya, bahasa adalah kata kunci kita di sini. Setidaknya itulah yang aku temukan dalam urusan menulis. Entah menulis sebagai sebuah kata kerja atau menulis sebagai sebentuk kemungkinan menjadi.

Lalu aku mencoba menulis dan menemukan adakalanya aku telah menjadi menulis. Ini seperti permainan bahasa yang menjengkelkan. Aku menulis dan menjadi menulis. Tapi tidak. Ini adalah sebuah peristiwa onto-epistemologis yang sangat luar biasa dan, meski memang menjengkelkan, cukup fantastis bagi kesenangan kita akan kemungkinan yang melampaui batas-batas kemanusiaan.

Katakanlah semacam spiritualisme naturalistis.

Seperti ketika kita berada di pantai, melihat ke arah kejauhan batas antara laut dan langit dan menemukan garis cakrawala. Dan ketika ada yang terasa melenyap, itu selalu bukan kita tapi semata kondisi-kondisi bagi keberadaan kita. Katakanlah seperti debur ombak, bau asin, terpaan angin, atau sekedar kehadiran segala sesuatu yang bukan kita (baca; aku).

Seperti itulah menulis dalam capaian-capaiannya yang paling sederhana. Dan itu bukan peristiwa linguistik atau permainan semantik. Itu adalah kata kerja yang menjadi entah ketika hal antropologis berubah menjadi abstraksi-abstraksi yang selalu berusaha kita gagalkan.

Dan itu adalah rahasia pertama dalam menulis: menggagalkan abstraksi-abstraksi. Tanpa peristiwa menggagalkan abstraksi, kita bahkan tidak akan pernah menulis. Lalu aku menulis dengan cara itu.

Dimulai dengan sebuah puisi ulang tahun untuk seorang sahabat yang meninggal dalam keadaan telanjang karena ingin menjadi murni dalam upayanya meninggalkan kenangan akan dirinya sebagai tubuh yang pernah merasakan hidup.

Puisi itu begitu mengharukan sehingga aku lupa menuliskan judul. Dan tanpa judul tak ada abstraksi sehingga tak ada yang bisa digagalkan. Lalu aku kembali menulis. Juga sebuah puisi dengan judul yang cukup panjang.

Tapi kali ini tentang ibuku yang berkali-kali melahirkan aku.

Pertama sebagai elang dengan sayap berwarna jingga, lalu sebagai malaikat buta, lalu sebagai pelancong di sungai berbatu-batu, terakhir sebagai seorang lelaki yang menemukan kekasihnya di dalam dongeng-dongeng orang Eropa.

Aku menangis waktu itu karena orang-orang kemudian mulai menyebutku sebagai penulis. Itu adalah tangisan bahagia untuk sebuah pujian yang percuma. Tidak sebegitu percuma tapi memang cukup percuma, setidaknya sebagai sebuah pujian.

Aku selalu takjub pada cara kita mempercumakan diri dalam pujian tapi tidak ada yang lebih menakjubkan seperti cara kita menjadi penulis dan menemukannya sebagai pujian dengan segala kepercumaannya.

Dan aku terus menulis.

Aku telah menulis tentang berbagai hal hingga saat aku sadar bahwa aku belum pernah menulis dengan menjadi menulis itu sendiri. Bagaimana kata menjadi pikiran kita dan tercurah begitu saja sebagai huruf yang membentuk kata atau yang kita anggap sebagai kata yang membentuk kalimat atau yang kita anggap sebagai kalimat.

Aku terpana seakan termantra.

Aku tercerahkan.

Sungguh.

Aku terbangun dari ketololan kanak-kanakku mengenai menulis, membuat tulisan dan menjadi penulis. Itu semua adalah bagian-bagian yang tidak penting dari sesuatu yang sangat penting: menemukan menulis.

Dan aku kembali menangis ketika aku kembali menulis. Dan untuk seterusnya aku selalu menangis setiap kali menulis atau, jika ada cukup waktu, aku selalu menulis setiap kali aku menangis.

Kenapa?

Karena bukannya menemukan kata bagi setiap pikiran, aku justru menemukan pikiran dalam setiap kata. Menuliskannya sambil menangis dan menemukan bahwa menulis, dan ini adalah rahasia yang kedua, bukanlah berkata-kata.

Pada saat itu, dengan atau tanpa judul, aku tidak lagi menulis puisi.

Aku hanya menulis aku.

Sebuah ungkapan lain dari “aku hanya menulis menulis” dan aku tidak menangis karena itu tapi karena dengan cara itu aku tak lagi perlu menulis. Aku hanya perlu bahasa untuk menemukan tulisanku.

Dan orang-orang akan membaca aku.

Manado 2015

amato

XXI

Aku mengharapkan bagi rinduku sebuah nama setelah perjalanan kita ternyata tidak menemukan apa-apa kecuali batas yang begitu niskala antara apa yang kusebut cinta dengan apa yang kerap kau teriakkan di dalam tidur.

Nama tentu saja adalah sebuah definisi yang ragu dari minat kita untuk memberi batasan pada segala sesuatu, termasuk keinginan kita untuk melepaskan diri ke arah pengertian yang lebih baik meski terkadang dengan tergesa.

Maka rinduku pun memperoleh namanya tanpa upacara serta rasa haru namun dengan kesediaan untuk membungkam kenangan samar kita akan perjalanan yang tidak pernah dikehendaki itu. Dan kau gagap, pada akhirnya.

Sayangnya kita tidak pernah punya cukup waktu untuk melanjutkan sapa menjadi perbincangan yang sudah sewajarnya antara seorang aku dan seorang kau dengan mengucapkan rindu sebagai sebuah nama, tentunya.

Jadi, cinta tidak memiliki cukup makna untuk membawa kita pada pengertian; aku masih ingat sesuatu yang kau berikan pada malam penuh bintang-bintang tapi aku lupa kenapa kau begitu kabur dalam pengertianku sendiri.

Dan cerita kita menjadi semata perjalanan itu. Menjadi apa yang dikenang meski tak pernah bisa dimengerti. Menjadi aku, kau, dan sebuah pengertian yang menghambur di dalam kenangan kita. Meski rindu belum bernama.

Aku memang lebih suka memahaminya sebagai sebuah perjalanan. Di dalamnya pertemuan termasuk, serta sapa dan hasrat akan cinta. Aku lupa sejak kapan itu menjadi cinta tapi aku yakin itu memang disebut cinta.

Karena cinta memang bukan semua itu sekalipun kita telah menuliskannya dalam seribu roman; orang-orang yang kehilangan hidup hanya agar bisa memberi pengertian pada ketidaktahuan mereka yang agung dan gradatif.

Kita, seperti orang-orang itu dan yang lain yang membaca tentang mereka lalu berupaya menemukan diri dan kisahnya sendiri di dalam cerita-cerita itu, hanyalah sejenak kegagalan di batas antara rindu dan waktu.

Itulah kenapa aku memilih untuk tidak disakiti oleh kenangan dan harapan; menengok ke belakang dan tidak menemukan bayanganku sendiri atau memandang ke depan dan dibutakan oleh sinar matahari yang angkuh.

Ya, aku telah berhenti lama sebelum kau mengirim padaku surat yang sama yang mereka kirimkan padamu dengan gambar-gambar yang membentuk abjad seolah prasasti ketololan kita menjadi manusia atau tidak.

Mungkin itulah intinya. Maksudku, segala sesuatunya. Sebuah gambaran terang. Mereka menyebutnya pencerahan. Kau menyebutnya matahari karena dia memberimu bayang serta kenangan untuk dilupakan.

Kita sudah lama menamakan ketidaktahuan kita, batas niskala itu, kenangan akan perjalanan yang tidak pernah bisa kita mengerti, orang-orang yang membaca roman dan menemukan air mata mereka, matahari, sebagai tuhan.

Bagi rindu, dengan atau tanpa cinta, kita telah menyembahnya setelah memberinya nama.

Manado 2015
amato